Pages

Rabu, November 14, 2012

lingkaran masa lalu


“sampai kapan kau terus bertahan,
sampai kapan kau tetap tenggelam,
sampai kapan kau mesti terlepas,
buka mata dan hatimu,  relakan semua..”
(Semua tak sama – Padi)

Pas lagi nyari-nyari CD zain bikha…eh ngga sengaja nemu CD Padi yang kedua  (Sesuatu yang tertunda). Ya udah, saya coba dengerin lagi, setelah sekian lama ngga dengerin…






Kalo muter CD ini jadi inget waktu SMA, terutama kelas 2 atau 3 SMA, soale ni band, lagu-lagunya hits banget dulu (sekarang juga masih kali ya.. J ) dan tentu saja menyentuh banget untuk ukuran masa-masa SMA waktu itu…
Lagu Favorit saya  cuman ada dua di album yang ini : Semua Tak Sama dan Kasih Tak Sampai.  Setiap dengerin CD yang ini saya cuman dengerin 2 list itu, soale saya suka lirik-liriknya, gebukan drum-nya, alunan gitar, bass, piano dan harpa-nya. Ahh keren ;D.

Pas dengerin dua lagu itu pasti langsung otomatis deh ni kepala memunculkan sebagian besar memory masa SMA, seperti slide-slide power point (aishh). Dan lucunya, setiap slide itu memunculkan ngga hanya gambar atau video-nya aja, tapi juga sesuatu bernama ‘Rasa” : dari bahagia, sedih, kecewa, bangga, terpuruk, hingga semangat yg menggebu-gebu itu masih terasa, meski ngga sebesar “rasa”  asli yg dirasain saat itu.

Jadi inget waktu rame-rame be-gitaran di kelas pas jam kosong atau seminggu abis ulangan, Inget waktu kerja bakti nyiapin HUT Smunsa yang ada bazaar dan parade band antar kelas, Inget gelar seni untuk angkatan 2001 dan 2002, Serunya liga smunsa 2000-2001, Berantem dan ngirim surat kaleng sama tim Bola IPS 1 (angktn 2001),  Inget pas jadi panitia MOS 00/01 & 01/02, Inget ritual “masuk gua” di perpus hampir tiap hari pas kelas 3, Juga hari-hari yang dijalani di OSIS, OPM, Mading Ash-Shaffa, atau sekedar nongkrong abis pulangan sampe sore di emperan masjid sekolah atau di burjo depan sekolah. Ahh terlalu banyak kalo ditulis semua. Eheheheheee.
Emang bener kata orang-orang jadul, masa sekolah yang paling berkesan emang pas SMA.

kangen euy…!
kangen banget..

Nah…..pas lagu “Semua Tak Sama” masih terdengar di telinga, kepala saya tiba-tiba fokus pada lirik terakhirnya…
Kali ini, saya ulang-ulang lagi dengerin Ref terakhirnya sampe abis.

“sampai kapan kau terus bertahan,
sampai kapan kau tetap tenggelam,
sampai kapan kau mesti terlepas,
buka mata dan hatimu, relakan semua..”

ada yang istimewa dengan lirik ini…
saya merasa terikat (baca: diingatkan) dengan lirik ini.
Saya teringat salah satu kecendrungan buruk saya : sering terikat pada masa lalu. Yap bentul eh betul maksud saya (maap ^^v).
Terus terang terang terus, Saya termasuk tipe orang yang sulit melupakan masa lalu, terutama yang berada di kutub-kutub ekstrim hidup saya, episode terbaik dan episode terburuk.
Saya hampir selalu mengingat detail perjalanannya hingga “rasa”-nya.  Apalagi kalo ada sesuatu , entah barang, musik, film atau apa aja yg ada hubungannya sama peristiwa itu, pasti keinget-inget deh itu peristiwa.

Tapi ada juga sih yang ga inget sama sekali, cuman bentuk puzzle-puzzle gaje aja (kali karena kecelakaan yg saya alami 2008 lalu). Alhamdulillahnya saya punya buku harian, jadi lumayan juga bisa bantuin ngerangkai puzzle gaje tadi. Eheheeehee..

Dan itulah istimewa-nya lirik ini buat saya.
Bang fadli n friends ni seakan mengingatkan saya bahwa
sampai kapan saya bisa terus bertahan  terikat dengan masa lalu
sampai kapan saya mau tenggelam disitu
sampai kapan, hingga saya benar-benar memutuskan untuk melepaskan ikatannya
dan yang terpenting…
sampai kapan saya mau buka mata dan hati saya untuk merelakan semuanya?
Sampai kapan?

Sampai sekarang saya juga ga tau…
Tapi setelah nulis ini semua, saya jadi kepikiran teori lama saya soal hidup…
“ Hidup itu nul, kayak naik sepeda motor, berbagi jalan dengan kendaraan yang lain, mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada disepanjang jalan.  Sesekali belajar dari masa lalu dengan melirik (ingat hanya melirik, bukan dipelototin yaa) kaca spion tanpa kehilangan fokus pada jalan yg terbentang di hadapan ”

----------------------------------------------------------------------------------------------

Sekarang disini aku terkatung-katung pada kontinen makna.
laut yang keras, kata yang deras, benak yang terperas.

Disini aku, bertahan terus sebagai diri,
menambal retak-retak,
menahan gempuran daya yang membelah-belah,
bergerak saja kedepan.

Disini aku berkuat mengingat arti lahir di dunia,
memahami lemparan nasib,
menerka maksud jatuhnya Adam dan Hawa,
menyingkap kepungan dunia,
melompat-lompat, mengurai-ngurai, memaknai segalanya.

Disini aku menjaga kilauan api dalam diri,
menjaga gelora, beriak dalam temaram, bertahan tak padam.
(puisi anonym, dalam catatan pinggir Goenawan Muhammad -waktu-)


masih didepan nagamochi,
Sabtu, 12 Februari 2011
Kata jam dinding dikamar sih, skrg jam 10.00 malam

3 Umar di Hatiku #track 3


bismilah


Yang akan saya ceritakan ini, bukanlah Harry Potter, meskipun sama-sama punya luka parut di dahi. Yang akan saya ceritakan ini bahkan jauuuuuuh lebih keren dari Harry Potter yang kamu kenal :D.
Beliau adalah salah satu dari 3 Umar yang sangat saya cintai. Beliaulah Khulafaur Rasyidin ke lima.
Sudah tau kan siapa?
Yap betul, beliau adalah  Umar bin Abdul Aziiz bin Marwan bin Hakam.







Sama seperti 2 Umar sebelumnya, untuk Umar yang satu ini, saya pun ngga ingat sejak kapan persisnya saya mulai cinta. Yang jelas saya pertama kali jatuh cinta dengan beliau karena nama beliau sama dengan 2 Umar sebelumnya dan  karena beliau adalah Cicit Umar bin Khattab.

Ketika ayah beliau meninggal dunia, beliau dipanggil kembali ke Damsyik oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan dikawinkan dengan putri beliau yaitu Fatimah binti Abdul Malik.

Umar kecintaan saya ini orangnya ramah dan wara’. Beliau sangat berhati-hati dengan harta  terutama yang melibatkan harta rakyat. Tahu cerita tentang lilin di rumah khalifah Umar? Awalnya saya sangka itu Umar bin Khattab, ternyata setelah saya telusurin itu Umar yang ini. Itu juga yang membuat saya kagum dengan beliau (jadi ingat Baharudin Lopa..)

Sebenarnya waktu beliau diangkat jadi khalifah,beliau agak ngga pede gitu. Soalnya ternyata beliau juga bagian dari keluarga kerajaan yang boros dan glamour. Sebelum jadi khalifah,beliau adalah orang yg modis dan klimis juga selalu pake baju dan barang-barang mewah.
Tapi sekalinya udah jadi khalifah beliau berubah 180 derajat. Beliau menjadi sangat wara’ dan zuhud sekali.

Setelah beliau menjadi khalifah, beliau segera mengadakan perombakan di beberapa sisi. Tau ngga? Pada saat beliau menjadi khalifah, negara dalam keadaan sangat sulit. rakyat miskin makin miskin yang kaya makin kaya, ketimpangan sosial dimana-mana akibatnya kejahatan pun jadi makin merebak. Disi lain, pihak kerajaan Bani Ummayyah pada waktu itu sangat korup. Mungkin lebih parah dari kondisi negara kita sekarang (wewww).

Hal pertama yang beliau lakukan adalah mempersiapkan dirinya dan keluarganya. Dalam waktu singkat beliau merubah diri dan keluarga, dari yang glamour gimana gitu, sampai menjadi zuhud sekali. Beliau meminta istrinya menyedekahkan semua perhiasan istrinya dan semua harta mereka ke Baitul Mal.
Dengan menyiapkan diri sendiri dan keluarga kecilnya ini, beliau jadi punya kekuatan lebih untuk merombak system negara yang carut marut pada saat itu.

Nah, diantara juga perubahan awal yang beliau lakukan ketika beliau menjadi khalifah adalah beliau menghapuskan cacian terhadap Ali bin Abu Thalib dan keluarganya yang ketika itu sering disebut dalam khutbah-khutbah Jumat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran. Beliau juga merampas kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah terdahulu dan mengembalikannya ke Baitulmal. Kemudian beliau menghapus KKN yang mendarah daging di pemerintahan dengan memecat pegawai-pegawai yang suka menyalahgunakan kekuasaan, yang tidak cakap atau yang dilantik berdasarkan rekomendasi pribadi dari keluarga Khalifah.

Trus ini ni yang juga patut dicontoh  Pemimpin bangsa kita, beliau menolak tinggal di istana dan juga menghapuskan pegawai pribadi bagi Khalifah (kayak paspampres gitu deh..)  seperti yang dicontohkan Khulafaur Rasyidin dulu. Nah, hal ini membuat beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekat,  ga seperti khalifah sebelumnya yang mempunyai pengawal pribadi dan tentara khusus yang mengawal istana hingga menyebabkan rakyat jadi sulit kalau mau ketemu sama Khalifahnya.  (coba presiden, gubernur, bupati, anggota dewan kita kayak gini ya…. ==” )

Selain itu beliau juga menaikkan standar upah minimum para buruh, bahkan sampai disamakan dengan pegawai kerajaan. Bingung ngga darimana dapat uangnya? Sedangkan waktu itu negara dalam keadaam susah sekali. Tentu saja beliau ngga langsung menaikkan upah buruh ini, tapi dengan cara bertahap. Tapi tahapannya termasuk cepet lo, dan kuncinya ternyata adalah agama dan ilmu.

Jadi strateginya, sambil merombak system, beliau juga merombak mental orang-orang di system kerajaan dan rakyatnya. Beliau memerintahkan rakyatnya yang mayoritas muslim itu untuk shalat berjamaah 5 waktu di masjid (terutama untuk laki-laki) dan menjadikan masjid-masjid sebagai tempat mencari ilmu seperti yang berlaku di zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Kajian-kajian ilmu dibuka secara luas, buku-buku yang berbahasa asing  diterjemahkan kedalam bahasa arab, supaya rakyatnya semakin tertarik mempelajari dan mengembangkannya.
Beliau juga memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar Al Hazni di Mekkah untuk mengumpulkan dan menyusun hadist-hadist Rasulullah SAW. Selain itu, beliau juga mengirim pemuda-pemuda untuk menuntut ilmu di luar kerajaan, dan menyuruh mereka kembali ketika sudah selesai sehingga bisa membangun kerajaan.

Yang hebat lagi dari beliau, ketika memulihkan kondisi negaranya , beliau masih sempat mengadakan ekspansi dakwah Islam ke luar negara. Beliau mengirim 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara dan beberapa kerajaan lain (India, Turki, dll).

Trus juga ni, disisi lain beliau juga memperbaiiki sistem keuangan negara dengan menyedekahkan hartanya ke baitul mal, menyita harta hasil korupsi keluarga kerajaan, dan penghematan besar-besaran. Dan hebatnya  untuk penghematan ini, beliau tidak hanya menghimbau tapi juga melakukannya dalam kehidupan pribadinya sehari-hari.Alhamdulillah hal ini membuahkan hasil, baitul mal penuh, sampai petugas baitul mal pada bingung soale ngga nemu orang buat dizakati. akhirnya uang zakat itu digunakan untuk membayar utang-utang pribadi rakyatnya (bayangkan sodara-sodara...bayangkan..!)  sampai-sampai  biaya pernikahan rakyatnya pun ditanggung negara. weww..subhanallah...

Dan tahukah engkau saudaraku ?
Beliau memerintah hanya selama 2 tahun 5 bulan saja.
Saya ulangin ya.. cuman 2 tahun 5 bulan saja. Cuman 852 hari aja.
Kaget ngga? Saya juga kaget pas pertama kali tau.
Sungguh luar biasa.
Dalam waktu yang sesingkat itu beliau mampu memberikan contoh keteladanan dalam memipin negara, bahkan beliau memulainya bukan pada saat negara dalam keadaan baik, tapi justru pada saat negara dalam keadaan terpuruk. Dalam waktu yang sesingkat itu beliau bisa memberikan rasa aman pada rakyatnya, tidak ada pemberontakan, kehidupan rakyat semua tercukupi sampai-sampai pada waktu itu kalau orang mau berzakat atau bersedekah pada bingung, soalnya dalam kerajaan itu ngga ada satu orang pun yang wajib dizakati atau bisa disedekahi. Semua orang udah makmur atau setidaknya sudah bisa mandiri. Subhanallah ya... beliau mampu menghadirkan keadilan pada setiap rakyat tak peduli pangkat, agama dan kedudukan mereka.

Dulu saya kirain, negara seperti itu cuman khayalan aja, selain pada masa Rasulullah gak ada lagi yang seperti itu. Ternyata ada, terulang 2 kali bahkan (sepengetahuan saya saat ini, bisa jadi berkali-kali tapi saya belum tau yang lain). Negara ideal itu ada pada masa kepemimpinan dua Umar, Umar bin Khattab dan cicitnya Umar bin Abdul Aziiz. Dan ini, menimbulkan optimisme besar dalam diri saya, bahwa Indonesia suatu saat bisa aja jadi seperti itu, bahwa negara ideal itu bukan cuman dinegeri dongeng seperti yang orang-orang apatis bilang. Negara seperti nyata dan bisa aja Indonesia salah satunya (nanti, amiiin).

Btw, mau denger ngga apa-apa kata orang-orang di zaman itu soal Umar bin abdul Aziiz ini ? Berikut adalah testimony beberapa orang tentang beliau :
  1. At-Tirmizi meriwayatkan bahawa Umar Al-Khatab telah berkata : Dari anakku (keturunanku) akan lahir seorang lelaki yang menyerupaiku dari segi keberanian dan akan memenuhkan dunia dengan keadilan
  2. Dari Zaid bin Aslam bahwa Anas bin Malik telah berkata : Aku tidak pernah menjadi makmum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah SAW yang sholat imam tersebut menyamai sholat Rasulullah SAW seperti Umar bin Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah Gubernur Madinah
  3. Al-Walid bin Muslim menceritakan bahwa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata : Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi : Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah baiat kepadanya karena dia adalah pemimpin yang adil. Lalu aku menanti-nanti sampai Umar b. Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun menemuinya dan memberi baiat kepadanya.
  4. Qais bin Jabir berkata : Perbandingan Umar bin Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Firaun
  5. Hassan al-Qishab telah berkata : Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar Ibnu Aziz
  6. Umar bin Asid telah berkata demi Allah, Umar Ibnu Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai : Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mahu. Tetapi tiada yang mahu menerimanya (karena semua sudah tercukupi) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya
  7. Atha telah berkata : Umar Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis karena takut kepada azab Allah seolah-olah ada hal-hal buruk di antara mereka.

oia lupa, Pas beliau baru jadi khalifah, beliau sempet bilang sama seorang ulama yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, “Aku benar-benar takut pada neraka.”  and you know what? Sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, dari takut sama neraka, pas umur beliau 37 tahun, dan berakhir dua tahun lima bulan kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan Husnul Khatimah : kemakmuran dan keadilan telah tegak di negaranya.

Beliaulah Umar kecintaan saya yang ketiga.
Lelaki yang membuat saya bangga
Sebab kecintaan sekaligus rasa takutnya yang dalam pada Allah
membuatnya sanggup memalingkan wajahnya dari dunia
membuatnya berdiri tegak menghalau kefakiran dan ketidakadilan
Jadi, jika begitu bagaimana bisa saya tidak jatuh cinta padanya ?


masih di samarinda,
13 Februari 2011, jam 09.51 malam kata hapeku

saat kata - kata itu masih terdengar jelas di telingaku


Bismillah...

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan berbagi pengalaman tentang pengemis dan beberapa pandangan beliau soal itu.

Tertegun saya membaca tulisan beliau, tulisan beliau mengingatkan saya tentang sebuah pengalaman yang cukup bikin miris hati saya.

Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke Malang, setelah melakukan perjalanan dinas ke Surabaya. Dalam Bus Surabaya-Malang itu saya duduk paling belakang bersama 4 orang lainnya. Saat bus sedang berenti sementara waktu, seorang pengamen masuk lalu menyanyikan sebuah lagu. Lagu itu tuntas dinyanyikannya sampai habis. Setelah itu, seperti pengamen pada umumnya, dia mulai mengedarkan sebuah kantong ke para penumpang dengan harapan banyak penumpang yang akan memberinya satu dua rupiah.

Tapi harapan hanya harapan, sampai ke deretan bangku belakang tak ada seorang pun yang memberinya uang. Kemudian, ia berkata sesuatu sebelum turun dari Bus. Deretan kalimatnya itulah yang sering terngiang-ngiang dikepala saya hingga saat ini jika saya melihat pengamen lain dan sejenisnya.

Sebelum turun dari Bis, ia berkata dengan suara lantang kepada semua penumpang dalam bus itu “Kalian semua ini, gak tau gimana rasanya lapar !!!”

Saya terus melihatnya sampai ia turun dari Bus dan hilang di keramaian.
Sedang kata-katanya barusan itu, tetap tinggal dikepala saya sampai sekarang.
Membatu berikut “rasa’-nya, mengkristal belum mencair hingga sekarang.

 Wahai Aslam, sesungguhnya rasa lapar itu adalah musuh...” Kata Umar bin Khattab suatu hari setelah memberi makan sebuah keluarga yg kelaparan dipinggir Kota Madinah.

Benarlah yang dikatakan Umar, bahwa rasa lapar adalah musuh.

Hanya satu senjata yang bisa menaklukan musuh itu : Iman, tapi iman manusia pun yazidu wa yanqus, iman manusia naik dan turun.
Jika seorang manusia bisa menaklukannya maka tak akan ada efek lapar selain menambah keimanan, namun jika tak bisa maka bujukan syetan yang berkolaborasi dengan nafsu akan mudah diikuti sepenuh hati.
Nyopet, nyuri, malak, njambret sampe ngerampok pun bisa aja dilakukan.

Dan bagaimana jika uang receh satu dua rupiah yg kita berikan pada mereka ternyata bisa mencegah mereka berbuat buruk seperti itu ?

Tapi bagaimana dengan argumen “mereka masih kuat, masih muda..harusnya bisa nyari uang tidak dengan cara macam itu, memberi hanya menjadikan mereka melakukan kebiasaan buruk..”

Ada satu hal yang saya beri nama “Presepsi Terbalik”.

Saya terinspirasi oleh kata-kata seorang Ibu : “ jika anak saya “nakal” ustdzah...maka saya-lah yang lebih dahulu diterapi..kalau saya baik..anak saya pun bisa “sembuh”.... “
Saya langsung teringat teori Stephen Covey (7 habbits) soal paradigma bahwa kita tidak bisa merubah pikiran orang lain seperti orang lain tak bisa merubah pikiran kita tanpa kita izinkan. Kita mulai perubahan itu dari hal-hal yang “kita bisa jangkau”.

Argumen bahwa mereka masih kuat dan seterusnya itu bukan untuk kita yg dalam posisi “pemberi” tapi untuk mereka yang dalam posisi “penerima”.
Maka itu tak bisa dijadikan alasan untuk tidak memberi (saya tidak mengatakan kita harus selalu memberi jika ada yang meminta, memberi atau tidak itu Hak kita tapi yg ingin saya katakan adalah jika alasan tidak memberi itu adalah argumen diatas maka itu tidak tepat menurut saya).


Lapar itu kebutuhan manusia yang mendesak. Harus ada solusinya. Rantai pengamen tak profesional, pengemis dan sejenisnya tak bisa putus hanya dengan memutuskan untuk tidak memberi. Harus ada pencerahan dan pembinaan. Awalnya dari mana? Awalnya dari Tuntaskan dulu rasa lapar mereka. Lalu lanjutkan dengan mengenali sebab mengapa mereka memutuskan untuk jadi pengemis, pengamen tak profesional dan sejenisnya. Disinilah kita bisa menggunakan argumen itu : “ Engkau masih muda, kuat, kenapa tak bekerja yang lain saja..?”. Nah, nanti akan mengalir sebab-sebabnya.
dan sebab-sebab itulah yg dituntaskan.

Terlalu idealis ? Sulit untuk dilakukan?
Betul, memang idealis, dan sulit tapi bukan berarti tak mungkin untuk dilakukan bukan?

Dan bila kita belum mampu untuk menuntaskan sebab-sebab itu, maka apakah tak sebaiknya jika kita mencoba untuk membantu menuntaskan rasa lapar mereka?

 Kazekage gaara, 6 juni 2011..
Jam setengah 4 lewat 10 menit pagi

Saat  “Kalian semua ini, gak tau gimana rasanya lapar !!!” masih terdengar jelas ditelingaku..

Sekolah Ramli



Bismillah..


" When the well is dry, We know the worth of water " - Benjamin Franklin- 


Berbulan-bulan yg lalu (lama amat nul...),  pada waktu jam istirahat. Saya dan beberapa anak-anak (murid2) saya berkumpul  di depan tangga utama sekolah. Sebagian ada yang duduk di anak-anak tangga, namun ada pula beberapa yg berdiri ikutan nimbrung.
Pas ngumpul-ngumpul sambil cerita-cerita itu, iseng-iseng saya nanya ke anak-anak.
“Ayo nak, coba deh perhatiin disekitar sini, kira-kira ada ngga yg bisa dijadiin uang ? “
Anak-anak saya lalu memperhatikan sekeliling sekolah, beberapa ada yg cepat menjawab “ Kantin ustdzah, itu lumbung uang disekolah..”,  “Koperasi ustadzah, klo kita nitip barang buat dijual kan bisa jadi duit”. Lalu ada pula yang menjawab “Tempat sampah ustdzah.. itu juga bisa jadi sumber duit..!”

Saya sungguh mengapresiasi jawaban yg terakhir itu. Karena Tempat Sampah itulah yg saya maksud.
Sampah sekolah itu berpotensi untuk jadi sumber pemasukan bagi sekolah, bukan hanya pemasukan dalam finansial, tapi juga berpotensi mengembangkan fikir, kreatifitas, perilaku bahkan sisi spritualitas bagi komponen sekolah, terutama bagi siswa.

Saya lalu mengajak anak-anak saya itu untuk memperhatikan isi tong sampah disekitar tempat kami nongkrong. Disana ada sampah bungkus plastik abis tempat permen atau mihun, ada pula botol air mineral, ada pula gelas-gelas plastik, daun-daun kering, sisa makanan dan lain-lain. Dan tong sampah-tong sampah itu selalu penuh setiap hari, bahkan tak jarang juga kepenuhan membludak.
Itu isinya klo sekolah bisa mengelola, akan jadi  luar biasa, bukan hanya untuk siswa tapi juga untuk sekolah bahkan untuk beberapa pihak di luar sekolah.

Dalam obrolan singkat kami soal sampah itu, salah satu anak saya bercerita soal pengelolaan sampah dilingkungan rumahnya.
“Di komplek rumah saya ustadzah, ada Bank RamLi..”
Awalnya saya kira itu nama orang ternyata : “ Bank Ramli itu ustadzah, bank ramah lingkungan. Jadi sampah orang2 disekitar rumah saya itu dikumpulin di sana. Ntar bisa jadi pupuk ustdzah, ada juga yg dijual ke komandan pemulung.. “
Saya pikir, itu bank ramli cuman ada di jakarta atau kota2 di jawa aja (ngeremehin banget si unul ni ya...hadeeh..) , tapi ternyata di samarinda kota lahir saya tercinta juga ada yg seperti itu. Kereeen  d^^b

Lalu saya jadi mikir, kalo disitu ada Bank RamLi, kenapa di sekolah ini gak bisa ada Bank Ramli.
Bahkan mungkin lebih bisa memungkinkan  untuk ada. Pertama karena sampah-sampah itu emang dikumpulin disatu tempat, trus potensi kuantitas sampahnya banyak dan potensi kualitas sumber daya manusia-nya, secara kan institusi pendidikan tho.. :D

Mari kita lihat dari beberapa aspek jika Sekolah RamLi ini bisa diwujudkan..

Pertama dari aspek finansial.
Sungguh luar biasa, boleh dibayangkan (saya kasih waktu 2 menit untuk ngebayangin.. ehehehee :D). 
Untuk SMP aja disekolah tempat saya mengajar dan belajar itu, ada 8 Kelas yg masing-masing kelas itu punya minimal 1 tempat sampah yg gede, ada juga kelas yg punya 2. Belum termasuk tempat sampah yg ada di samping-samping tangga masuk, di kantin, koperasi , di depan Ruang Guru dan TU.  Apalagi klo digabungin sama puluhan tempat sampah yg ada di SD yg juga satu komplek sama SMP.
Wah, itu potensi sampah yg besar kan?
Setelah saya amati, sekitar 80 persen terdiri dari  sampah-sampah yg bisa didaur ulang, seperti gelas-gelas plastik sisa minuman, botol-botol air mineral, kertas-kertas gaje, bungkus plastik bekas permen, snack atau makanan siap saji, dll.
Hanya sekitar 20 % yang terdiri dari sisa-sisa makanan.
Coba Bayangin tu, klo dikiloin bisa dapat berapa kilo itu satu hari ? dan bisa jadi berapa duit bulanannya.. ?? (Rp..Rp..RP.. :D )

Nah, untuk itu Sekolah bisa kerja sama dengan pemulung setempat atau langsung ke tempat pengumpul atau bisa juga mengelola sendiri proses daur ulang dan pemasarannya. Masing-masing ada konsekuensi untung rugi-nya.

Kalo kerja sama dengan Pengumpul, Sekolah tak perlu ribet, karena yg akan mengangkut adalah Pengumpulnya itu langsung ditimbang dan “dihargai” di Sekolah. Cuman sisi edukasi-nya jadi dikit, soalnya terputus ketika sampah diangkut dari sekolah.

Kalo kerja sama dengan Pemulung setempat, bakal sulit kalo orientasi sekolahnya money oriented, soalnya  gak banyak Pemulung yg “tajir” bisa langsung bayarin itu barang-barang disekolah. Atau kalo mau bisa pake sistem bayar belakangan, jadi Sekolah dapat bayaran kalau  Pemulung udah dapat duit dari Pengumpul.
Nah, klo ini pemulung setempat juga jadi kecipratan untung dan gak susah-susah nyari nyusurin jalan dan banyak tempat. Jadi memudahkan pemulung, ini juga ngasih sisi edukasi buat siswa-siswa (terutama klo siswa dilibatkan dalam proses ini) bahwa penting untuk menyentuh sisi bawah aspek pelaku ekonomi  (aduh  maap, jadi ribet, abisan gak nemu kalimat yg tepat.., maksud saya sama seperti ngajarin siswa bahwa lebih baik belanja di warung-warung deket rumah daripada di supermarket apalagi hypermarket, soalnya jadi turut membantu mengembangkan sektor ekonomi menengah kebawah).

Atau kalo mau lebih ekstrim lagi, dibikin aja jadi “Sedekah Sampah”, maksudnya pemulung-pemulung tersebut dapat gratisan itu sampah-sampah. Jadi gak perlu bayar kesekolah. Wah ini makin bagus lagi. Target-nya klo para pemulung itu tahun ini masih “terdaptar” sebagai mustahiq zakat, maka ditargetkan tahun depan itu pemulung berubah “terdaptar” dalam barisan muzzaki.  

Nah, klo sekolah mau ambil opsi yang ketiga boleh juga, yaitu Sekolah mengelola sendiri sampah-sampahnya itu, itu artinya mulai dari proses pemisahan , daur ulang sampai pemasaran dikelola oleh pihak sekolah.
Dalam hal ini Sekolah bisa melibatkan beberapa komponen sekolah, misalnya siswa dalam Osis atau dibuat Ekskul khusus daur ulang, Guru sebagai pembina-nya dan  kemudian pihak Koperasi  Sekolah dalam pemasarannya.
Untuk yg satu ini memang keliatannya Ribet banget, tapi saya pikir akan sepadan untuk efek positif dimasa depan buat sekolah itu.

Atau bisa juga pake kombinasi ketiga opsi diatas. Hal ini diserahkan kepada kondisi dan pilihan masing-masing Sekolah, mau pake kombinasi atau salah satu dari opsi itu atau bahkan pake cara yg lebih baik dari opsi-opsi diatas.

Itu baru dari sisi finansial, belum lagi dari sisi pengembangan potensi, kreatifitas, perilaku positif bahkan sisi spritual yg sebagian telah saya jelaskan dikit diatas.

Dengan adanya Sekolah berbasis RamLi ini, mengajarkan anak-anak dan komponen sekolah lainnya untuk lebih disiplin tercermin dalam semakin rajin untuk buang sampah pada tempatnya, terlatih untuk membedakan sampah organik dan non organik, dll.

Selain itu potensi dan kreatifitas juga turut berkembang, terutama klo Sekolah memilih untuk mengelola sendiri sampah-sampah tersebut.Bahkan bisa menginspirasi siswa untuk jadi pengusaha muslim atau ilmuwan muda (mungkin ntar-ntar anak-anak jadi terinspirasi buat teknologi daur ulang efektif, atau alat-alat atau sistem yg berhubungan dengan itu..)

Sisi Spritualitas  juga turut terbangun, misalnya jadi terbiasa hidup bersih dan membersihkan, menumbuhkan empati, meminimalisir kemubaziran, dll.

Untuk mewujudkan tentu memerlukan persiapan dan keterlibatan seluruh komponen sekolah. Mulai dari guru, siswa, koperasi, dll. Namun jika terlaksana, akan ngasih input positif yang banyak buat sekolah. Trus Adakah sekolah yg telah melaksanakan ini ?
Ternyata Ada, dan tidak hanya 1 sekolah!.
Bahkan bulan ramadhan lalu, saya dapat cerita dari sahabat saya yg tinggal di Jogja, bahwa ada pesantren yg membiayai “kehidupan” pesantrennya lewat cara ini. Dan dampaknya bukan hanya dirasakan pesantren tersebut tapi juga masyarakat disekita pesantren. Lihat efek positif yg meluas hingga keluar sekolah.

Bahkan ni, saya jadi berpikir, klo sepertiga saja sekolah yg ada ditiap kota mewujudkan Sekolah RamLi ini, maka akan sangat mengurangi limbah sampah di TPA-TPA yg ada di kota tersebut. Dan karena dilakukan oleh sekolah tentu akan diharapkan akan membawa dampak kepada murid-muridnya dan para wali murid untuk menerapkan hal ini juga di lingkungan rumah-rumah mereka suatu hari nanti. Allahuakbar !
Jadinya bukan hanya memperkecil jumlah limbah dan menjaga kebersihan, tapi juga bisa mengembangkan sektor ekonomi serta menciptakan lapangan kerja baru (soalnya kan tetep butuh orang2 buat mengelola dan mengolah sampah-sampah daur ulang itu...)

Saya sangat berharap, Cordova bisa jadi salah satu (bahkan mungkin pionir) Sekolah berbasis Ramah Lingkungan yang tentu akan menginspirasi Sekolah-Sekolah lain untuk berbuat hal yg sama. Semoga bisa terwujud. Amin..



*obrolan singkat bareng anak-anakku yg mencerahkan...
Terimakasih nak, beruntungnya ustdzah mengenal dan belajar bersama kalian :D


ditemani nagamochi junior
7 oktober 2011, jam 3 lewat 5 pagi-pagi buta