Pages

Rabu, November 14, 2012

Warisan Sejarah


bismillah....


Hidup yang ngga direfleksikan ngga layak buat diteruskan !” –Socrates-

Ketika saya kelas 2 SMP, saya mulai menulis buku harian, waktu itu tanggal 7 September 1997. Awalnya saya cuman iseng doang, supaya diary, hadiah dari sepupu saya pas ulang taun itu ada isinya. Awalnya saya menulis rutin setiap hari. Tapi lama-lama, karena gak telaten menulis, buku harian saya pernah beberapa kali berubah menjadi buku mingguan bahkan buku bulanan (--“).



Setahun setelah menulis buku harian (3 SMP), saya menemukan buku harian Zlata, seorang anak korban perang Bosnia diperpus sekolah. Dan beberapa hari kemudian saya menemukan buku harian Anne Frank, salah satu korban usaha genosida non arya jerman di perpustakaan daerah. Saat itu saya sangat tersentuh dengan buku harian mereka dan menjadi lebih semangat menulis buku harian.
Mereka juga yg mengispirasi saya untuk memberi nama buat buku harian saya (buku harian anne frank bernama Kitty).
Banyak nama saya berikan buat buku harian saya, berganti-ganti sesuai kawan imajiner saya (sejak kecil hingga sma, saya punya beberapa kawan imajiner).
Terakhir, setelah selesai buku ke 27 (8 April 2007) , saya berhenti menulis buku harian di buku. Saya beralih menulis di Nagamochi (komputer saya ^^), akhirnya nama-nya berubah menjadi Nagamochi (artinya awet) , dengan panggilan Chi (artinya bijaksana)  hingga sekarang.

Memberi nama pada buku harian, ngasih keasikan tersendiri buat saya. Saya jadi selalu punya teman bicara, meskipun saya tau itu diri saya sendiri. Hal ini bikin saya makin mengenal diri sendiri, walaupun sampe sekarang, saya rasa masih banyak sisi dari diri saya yg masih belum bisa saya kenali. Tapi setidaknya saya sudah bisa bersahabat dengan diri sendiri.  :D

Pertengahan Juli 2008, Saya tersentak membaca beberapa kalimat prokative di cover belakang salah satu buku Fadh Djibran, tanpa pikir panjang, saya langsung menukar buku tersebut dengan uang sebagai syarat supaya tu buku bisa saya bawa ke kosan.
Mau tau kalimat apa yg membuat semangat saya mendidih ketika itu ? check this out :

“Bayangkan kalau tradisi menulis gak pernah ada,
Kalau tradisi merekam peristiwa, gagasan, dan perasaan ngga pernah ada,
Apa kita bakal mengenal siapa nenek moyang kita?
Bayangkan kalau anda tidak menulis,
Tak berusaha merekam gagasan dan pikiran-pikiran anda,
Apa cucumu nanti akan kenal kamu? “ –fadh djibran, writing is amazing-

Terus terang, saya amat terprovokasi dengan kalimat-kalimat yg ada di cover belakang buku itu. Di cover belakang buku itu, Fadh Djibran menuturkan “dendam”-nya dan cita-citanya : tak mau dilupakan sejarah.
Dia bilang, jangan salahkan dia kalo dia lebih kenal karl max, jostein gaarder atau mas pram, daripada kakeknya sendiri, karena kakeknya yang tak sempat ia temui tak pernah mewariskan selembar tulisan pun. Ia tak pernah tahu isi kepala kakeknya, maka sulit baginya mengenal siapa sesungguhnya beliau.

Kemudian saya teringat Randy Pausch, seorang dosen yang mengidap kanker ganas. Disela-sela perjuangannya untuk bertahan hidup dan mempersiapkan kematiannya, ia mempersiapkan sebuah warisan besar untuk anak-anaknya. Waktu itu anak-anaknya masih kecil (-/+ 6 thn, 4 thn dan 2 thn), ia ingin walaupun ia nanti telah tiada, tapi anak-anaknya tetap mengenalnya dengan sebenar-benar kenal. Ia ingin anaknya tak hanya mendengar cerita dari ibunya, kerabat atau teman-teman dekatnya ayahnya saja, tapi juga dari dia sendiri. Ia ingin anak-anaknya mengetahui siapa dia, isi kepalanya, perjuangannya, mimpi-mimpinya.

Kebetulan waktu itu ia diminta untuk menyampaikan kuliah umum “ The Last Lecture” yg merupakan kebiasaan rutin kampus tempat ia bernaung. Maka, disitulah ia menyampaikan “pesan-pesan” terakhirnya yang ternyata bukan hanya untuk anak-anaknya tetapi juga untuk semua orang yg mendengar ataupun membacanya. Pesan-pesannya yg awalnya ia niatkan untuk anak-anaknya ternyata telah menginspirasi jutaan orang didunia. 

Saya betul-betul kagum dengan 2 orang ini. Mereka berdua juga yg menginspirasi saya untuk merestorasi total niat saya dalam menulis, terutama dalam menulis buku harian.

Awalnya saya menulis buku harian cuman buat iseng doang, tapi lama-lama seiring perjalanan waktu. Buku harian saya tidak hanya berisi tentang kegiatan-kegiatan saya seharian itu atau perasaan saya, tapi juga sarang pikiran-pikiran terdalam saya (guayyyyaaamu nullll...), kantong ide dan mimpi-mimpi saya.
Buku harian memberikan 'jaminan' buat saya untuk menumpahkan apapun yang saya pikirkan, yg saya rasakan, tentang apapun dan siapapun tanpa rasa takut. Buku harian adalah dunia saya yg lain, dunia tempat saya diskusi, melakukan perjalanan hati dan otak bersama nagamochi dan Allah sebagai saksi (selalu).
Buku harian juga menjadi salah satu katarsis emosi saya yang mencerahkan. Betul-lah kata salah satu kawan saya : menulis itu menyembuhkan..  :D
Menulis buku harian seperti mengurai benang-benang kusut, masalah yang datang seakan banyak banget sampe penuh rasanya kepala ni.. tapi setelah dituliskan, ternyata ada masalah yg sama sekali bukan masalah.
kalau masalah itu ibarat sebuah telur, maka buku harian membantu kita memisahkan antara cangkang dan putih telur dengan kuning telur yang merupakan inti masalah.

Tapi gara-gara tulisan Fadh Djibran dan Randy Pausch, membuat saya berpikir, ternyata menulis buku harian bukan hanya bermamfaat untuk masa kini, tapi juga untuk masa depan, bahkan saat saya sudah tak ada lagi di bumi ini.
saya teringat beberapa buku harian yg diterbitkan yg pernah saya baca dari yg serius (Zlata, Anne Frank, Grethe, ahmad Wahib (masih cuplikanya doang, belum dapet yg utuh), Soe Hok Gie) sampe yg gokil (Raditya Dhika, Pidi Baiq). Buku-buku harian tersebut, ternyata bukan hanya berguna buat diri sendiri tapi juga buat orang lain.
Buku-buku harian itu menginspirasi jutaan orang, bahkan saat penulisnya udah gak eksis lagi di dunia ini.

Tapi mimpi saya soal buku harian saya gak sejauh itu.
Saya hanya ingin seperti Randy Pausch, saya ingin keturunan saya mengenal nenek buyutnya ini, meskipun kelak saya tak bersama mereka. Saya ingin mereka mengenal isi kepala saya.
Saya tak mau dilupakan sejarah, saya ingin mewariskan sejarah.
Saya ingin mereka belajar dari kegagalan dan keberhasilan saya dalam hidup.
Sehingga mereka bisa memaksimalkan hidup mereka, jauh lebih baik ketimbang saya.
Hanya sedernaha, sesederhana itu saja...  :D


# to my beloved ading sepupuku , Tomy: tengkyu tom, hadiah ikam 14 tahun yg lalu jadi dary pertamaku...sekarang sudah 27 anak-nya dan 1 CD   ehehehehe  ;D
# to Fadh Djibran, Randy Pausch, Zlata, Anne Frank, Grethe, Ahmad Wahib, Soe Hok Gie, Raditya Dhika, dan Pidi Baiq : Tengkyu atas inspirasi ini..  :D

samarinda 3 Februari 2011, jam 08.34 Malam WJT (Waktu Jam Tanganku)

try to listen, not just to hear..


bismillah...

Akhir januari lalu, saya nonton film di HBO, tentang proses rekaman wawancara presiden Nixon dan Frost, seorang jurnalis Inggris. Ada satu hal dalam film itu yg membuat kedua alis mata saya reuni ditengah2 jidat manis saya, yaitu bahwa ada satu kerja media yg bisa jadi menimbulkan kesalahan fatal dalam penyampaian berita . Satu hal itu adalah “penyederhanaan berita” .
Setelah menonton film itu, saya jadi berpikir, bisa jadi orang yg menonton wawancara Nixon-Frost pada tahun itu kemungkinan besar akan punya presepsi yang berbeda ketika ia menonton film tentang proses pengambilan rekaman itu sekarang.
Betapa mudahnya presepsi seseorang berubah atas satu berita, hanya dengan merubah sudut pandang.
Betapa banyak korban ataupun pahlawan yang “dibuat” oleh sudut pandang-sudut pandang tertentu dalam sebuah berita atau peristiwa.

Saya teringat sebuah film lagi, lupa tapi judulnya apa.
Film itu berkisah tentang seorang satpam museum (John Travolta) yang dipecat dari kerjaannya. Kemudian untuk mendapat pekerjaannya kembali,  ia “tak sengaja” menyekap beberapa petugas museum dan juga beberapa pengunjung yg kebanyakan anak-anak.
Tak sengaja, ada wartawan yg ikut tersekap dimusium itu. Naluri jurnalisnya muncul,  meski dalam keadaan menjadi sandera,  ia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melaporkan kejadian tersebut, bahkan ia memamfaatkan si mantan satpam museum itu untuk “mendramatisir” berita untuk memuluskan kembali karirnya sebagai wartawan yg sempat hancur.
Wah, disitu terlihat banget bagaimana media mengarahkan presepsi penonton, mulai dari narasi berita, setting sampai pemilihan koresponden.
Film itu juga yang membuat saya agak berhati-hati dan berusaha tidak menelan mentah-mentah berita yg tersaji di chanel tipi, koran, majalah atau informasi dari orang-orang.
Karena itu pula saya lebih menyukai program berita talkshow (Mata Najwa, Apa kabar Indonesia, Kick Andy, Provokative Proaktive, dll) daripada program berita macam Seputar Indonesia, Liputan 6, Reportase dan semacamnya, karena dengan konsep seperti itu berita bisa dikupas lebih dalam dan bisa dilihat dari banyak sudut pandang.

Berita atau peristiwa bagi saya seperti sebuah segi banyak tiga dimensi (apa pula itu? Tak taulah, saya tak pandai matematik..ehehehe). Banyak sisi yang bisa kita lihat dari satu berita, dan karena punya banyak sisi maka satu berita saja bisa membuat kita salah paham atau benar paham tentang sesuatu hal.
Maka arif dalam melihat berita, penting ada dalam diri kita. Kearifan ini tak akan ada jika kita tak mau membuka diri dan memberi penjelasan pada nurani, bahwa “ hei, bukan kepalamu saja yg melihat itu berita, ada banyak kepala diluar sana yg melihat…dengarkanlah dulu..!”

Yah.. mendengarkan, itulah langkah awalnya. Bukan hanya mendengar, tapi mendengarkan.Mendengarkan akan membuat kita melihat sesuatu lebih dalam dari sebelumnya, lebih luas dari sebelumnya.
Mendengarkan akan menstimulus otak dan hati kita untuk bertanya, lalu menemukan jawaban lalu bertanya lagi, hingga kita menemukan yang kita tuju : Kebenaran.

Maka, dengarkanlah (bukan hanya mendengar tapi mendengarkan) lalu biarkan otak dan hatimu  bertanya dan berusahalah untuk menemukan jawabannya, maka salah presepsi akan semakin menjauh dari diri kita. InsyaAllah :D


didepan nagamochi, jam 12:27 malam WJK (Waktu Jam Kamarku)

3 Umar di hatiku #track2


bismillah..


Umar yang berikutnya sudah bisa ditebak, sapa lagi kalau bukan Umar bin Khatab.
Saya juga ngga ingat sejak kapan saya mencintai beliau. Tapi satu hal yg pasti, alasan pertama saya mencintai beliau adalah karena nama beliau Umar. Beliau punya nama yang sama dengan Abah saya (padahal beliau lebih dulu pake nama Umar daripada abah saya..eheheee)


Nama lengkap Umar yang ini adalah Abu Hafsh Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Rabah bin Abdullah bin  Qarth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al Qursyi Al ‘Adawi. Pertemuan nasabnya dengan Rasulullah SAW adalah pada Ka’ab bin Luay bin Ghalib.
Usia beliau lebih  muda 13 tahun dari Rasulullah SAW dan beliau masuk Islam  5 tahun sebelum hijriah.

Menurut riwayat, Umar bertubuh kekar, tinggi besar. Kalau berjalan cenderung dengan langkah yang lebar dan cepat tidak mudah diikuti kawan-kawannya yang lain. Wajahnya putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki yang lebar. Pernah suatu ketika beliau hendak memimpin shalat jamaah, kemudian beliau tak sengaja bersin, tau ngga? 4 orang jamaah dibelakang beliau terjengkang saking kagetnya mendengar beliau bersin!

Banyak hal yang membuat saya jatuh cinta kepadanya, yang paling saya sukai dari beliau adalah sifat beliau yang terus terang. Apa yang ada dihati-nya sama dengan yang ia ucapkan. Apa yang ada di kepalanya sama dengan yang diucapkan.  Ia seseorang yang tak suka basa-basi, tak mau basa-basi dan sulit berbasa-basi.

Umar dikenal temperamen, keras kepala dan “kikir”. Wataknya itu sudah terlihat sejak muda. Ia tak mudah dipengaruhi dan kuat memegang prinsip karena ia berani.
Oia, untuk soal “kikir”, itu karena beliau memang tak pernah kaya, sekaya sahabat-sahabat Rasulullah yang lain seperti Abu Bakar, Ustman bin Affan apalagi Abdurrahman bin  Auf. Padahal beliau juga berdagang seperti yang lain hingga sampai keluar Mekkah. Tapi karena kecintaan beliau yang besar terhadap ilmu, membuat beliau mengesampingkan dagang dan lebih fokus pada mencari ilmu. Tapi saya pikir, se kikir-kikirnya beliau sepertinya tak sampai bakhil, buktinya beliau rela menyedekahkan separuh harta-nya. Jadi saya memahami ke-kikiran beliau sebagai “Hemat” (tapi gak kayak iklan axis yg baru…(hemaaat beibb)  ;p)

Satu kebiasaan beliau ketika pergi berdagang adalah mencari orang terpandai di kota itu dan berguru padanya. Ini pula yang saya kagumi dari Umar yg satu ini : kecintaannya yang amat sangat pada ilmu.
Umar sangat cerdas, memiliki daya analisis yang sangat kuat. Beliau juga pengamat yang baik. Beliau sejak muda telah memperhatikan masalah-masalah sosial yang ada disekitarnya.
Beliau ahli dalam bidang genealogi orang-orang Arab (ilmu tentang silsilah/nasab) yang ia pelajari dari ayahnya. Beliau juga pandai beretorika dan kemampuan ini pula yang membuat beliau sering menjadi penengah perselisihan kabilah-kabilah Arab.
Disisi lain, beliau memberi apresiasi yang tinggi pada puisi dan suka mengutipnya.  Ia suka mendengar orang-orang bersyair dan membaca puisi. Banyak puisi dan syair yang beliau hafal, dan beliau juga suka membacakannya kembali.

Umar juga adalah tipe pria yang praktis dan senang bekerja. Nilai sebuah pikiran bagi Umar adalah besar tidaknya aplikasi sebuah pikiran dalam kehidupan.

Sebagai ayah, beliau ayah yang sangat baik meskipun keras. Sebagai suami, pada beberapa sisi beliau termasuk suami yang pengertian, beliau sabar mendengarkan istrinya yang mengomel padahal waktu itu ia bergelar Amirul Mukminin alias Presiden Umat Islam waktu itu.

Sebagai pemimpin, sungguh tak diragukan lagi. 10 tahun memimpin, Islam semakin berkembang di tangan beliau. Meskipun pada awalnya banyak umat islam yang tak sepakat beliau menggantikan Abu Bakar, Karena khawatir dengan sifat keras dan tanpa kompromi yang beliau miliki.
Tapi Umar menjawab keraguan kaum muslimin saat itu dan membuktikan bahwa dirinya sanggup memikul amanah tersebut dan berusaha untuk berbuat seadil-adilnya. Bahkan dalam pidato pertama-nya sebagai khalifah beliau meminta kaum muslimin untuk menegur dan menasehati beliau ketika beliau melakukan kesalahan, dan beliau mengatakan itu bukan sebagai penghias pidato saja, tapi memang itulah yang beliau harapkan.
Dan hebatnya, selama ia memimpin, penampilan Umar tak pernah berubah, hidupnya dan keluarganya masih sama seperti sebelum menjadi khalifah.

Selama ia menjadi khalifah, yang beliau pikirkan hanyalah kemaslahatan dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin umat Islam kala itu. Sampai-sampai setiap hari ia menginpeksi bergiliran daerah kekuasaannya. Ia termasuk sedikit dari pemimpin yang langsung turun melihat rakyatnya dari dekat, bahkan ia pernah mengangkut karung untuk bahan makanan satu keluarga di daerha kekuasaannya.
Ketika beliau jadi khalifah, tak sulit untuk menemui beliau, tak perlu birokrasi panjang-panjang untuk berkeluh kesah dengan beliau. Mengadukan berbagai persoalan, bukan hanya persoalan sosial bahkan persoalan pribadi/rumah tangga. Bayangkan kawan ? masih adakah pemimpin seperti beliau jaman sekarang ?  T.T

Dibanyak sisi Umar bin Khattab telah menjadi pioner, beliaulah orang pertama yang berhijrah terang-terangan, orang pertama yang mendapat gelar amirul mukminin, orang pertama yang menggunakan kalender hijriah, orang yang pertama mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan shalat sunnah pada malam-malam ramadhan, orang yang pertama kali punya ide untuk mengumpulkan Al-Qur’an, orang yang pertama mengidentifikasi orang-orang kafir dzimmy, membebaskan mereka dari perbudakan dan membebaskan pajak atas orang-orang kafir dzimmy yang miskin dan tak mampu bayar pajak,

Umar juga orang yang pertama memiliki gagasan diadakannya wajib militer dalam sebuah negara, orang yang pertama menyertakan hakim dan jaksa untuk berangkat bersama para tentara, orang pertama yang mengeluarkan undang-undang tertulis dalam dunia (negara)  islam, orang pertama yang menyelenggarakan konferensi dan pertemuan para petinggi pemerintahan atau pemimpin umat islam saat itu, beliau pula yang pertama kali memiliki gagasan untuk membuat peraturan-peraturan militer, daftar nama tentara dan dafar subsidi mereka  secara tertulis.

Maka benarlah apa yang Rasulullah SAW katakan tentang Umar : “Pada zaman dahulu sebelum kalian, terdapat beberapa orang pembaharu. Kalau saja masih terdapat seorang pembaharu pada umatku, maka Umar lah orangnya. “ (H.R. Bukhari.no.3486)

Beliaulah Umar kecintaan saya yang kedua.
Lelaki yang membuat saya bangga
Sebab kecintaan sekaligus rasa takutnya yang dalam pada Allah
Sebab kecintaannya pada Rasulullah dan keluarga beliau
Sebab kecintaannya pada Islam
Jadi, jika begitu bagaimana bisa saya tidak jatuh cinta padanya ?

* with a big hope that … (amiin Allahumma amiin) :D

Didepan nagamochi
5 Februari 2011, jam 05.45 sore waktu jam kamarku

Bahan bacaan :
# Muhammad Husain Haekal : Umar bin Khattab
# Muhammad Shadiq Al Minsyawi : 101 Kisah Umar bin Khattab
# Salim A. Fillah : Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim

To pak cik maruth : jazakallah khayr dah mengingatkan saya waktu itu,  insyaAllah cinta saya kepada umar tak seperti syiah pada Ali... :D

lingkaran masa lalu


“sampai kapan kau terus bertahan,
sampai kapan kau tetap tenggelam,
sampai kapan kau mesti terlepas,
buka mata dan hatimu,  relakan semua..”
(Semua tak sama – Padi)

Pas lagi nyari-nyari CD zain bikha…eh ngga sengaja nemu CD Padi yang kedua  (Sesuatu yang tertunda). Ya udah, saya coba dengerin lagi, setelah sekian lama ngga dengerin…






Kalo muter CD ini jadi inget waktu SMA, terutama kelas 2 atau 3 SMA, soale ni band, lagu-lagunya hits banget dulu (sekarang juga masih kali ya.. J ) dan tentu saja menyentuh banget untuk ukuran masa-masa SMA waktu itu…
Lagu Favorit saya  cuman ada dua di album yang ini : Semua Tak Sama dan Kasih Tak Sampai.  Setiap dengerin CD yang ini saya cuman dengerin 2 list itu, soale saya suka lirik-liriknya, gebukan drum-nya, alunan gitar, bass, piano dan harpa-nya. Ahh keren ;D.

Pas dengerin dua lagu itu pasti langsung otomatis deh ni kepala memunculkan sebagian besar memory masa SMA, seperti slide-slide power point (aishh). Dan lucunya, setiap slide itu memunculkan ngga hanya gambar atau video-nya aja, tapi juga sesuatu bernama ‘Rasa” : dari bahagia, sedih, kecewa, bangga, terpuruk, hingga semangat yg menggebu-gebu itu masih terasa, meski ngga sebesar “rasa”  asli yg dirasain saat itu.

Jadi inget waktu rame-rame be-gitaran di kelas pas jam kosong atau seminggu abis ulangan, Inget waktu kerja bakti nyiapin HUT Smunsa yang ada bazaar dan parade band antar kelas, Inget gelar seni untuk angkatan 2001 dan 2002, Serunya liga smunsa 2000-2001, Berantem dan ngirim surat kaleng sama tim Bola IPS 1 (angktn 2001),  Inget pas jadi panitia MOS 00/01 & 01/02, Inget ritual “masuk gua” di perpus hampir tiap hari pas kelas 3, Juga hari-hari yang dijalani di OSIS, OPM, Mading Ash-Shaffa, atau sekedar nongkrong abis pulangan sampe sore di emperan masjid sekolah atau di burjo depan sekolah. Ahh terlalu banyak kalo ditulis semua. Eheheheheee.
Emang bener kata orang-orang jadul, masa sekolah yang paling berkesan emang pas SMA.

kangen euy…!
kangen banget..

Nah…..pas lagu “Semua Tak Sama” masih terdengar di telinga, kepala saya tiba-tiba fokus pada lirik terakhirnya…
Kali ini, saya ulang-ulang lagi dengerin Ref terakhirnya sampe abis.

“sampai kapan kau terus bertahan,
sampai kapan kau tetap tenggelam,
sampai kapan kau mesti terlepas,
buka mata dan hatimu, relakan semua..”

ada yang istimewa dengan lirik ini…
saya merasa terikat (baca: diingatkan) dengan lirik ini.
Saya teringat salah satu kecendrungan buruk saya : sering terikat pada masa lalu. Yap bentul eh betul maksud saya (maap ^^v).
Terus terang terang terus, Saya termasuk tipe orang yang sulit melupakan masa lalu, terutama yang berada di kutub-kutub ekstrim hidup saya, episode terbaik dan episode terburuk.
Saya hampir selalu mengingat detail perjalanannya hingga “rasa”-nya.  Apalagi kalo ada sesuatu , entah barang, musik, film atau apa aja yg ada hubungannya sama peristiwa itu, pasti keinget-inget deh itu peristiwa.

Tapi ada juga sih yang ga inget sama sekali, cuman bentuk puzzle-puzzle gaje aja (kali karena kecelakaan yg saya alami 2008 lalu). Alhamdulillahnya saya punya buku harian, jadi lumayan juga bisa bantuin ngerangkai puzzle gaje tadi. Eheheeehee..

Dan itulah istimewa-nya lirik ini buat saya.
Bang fadli n friends ni seakan mengingatkan saya bahwa
sampai kapan saya bisa terus bertahan  terikat dengan masa lalu
sampai kapan saya mau tenggelam disitu
sampai kapan, hingga saya benar-benar memutuskan untuk melepaskan ikatannya
dan yang terpenting…
sampai kapan saya mau buka mata dan hati saya untuk merelakan semuanya?
Sampai kapan?

Sampai sekarang saya juga ga tau…
Tapi setelah nulis ini semua, saya jadi kepikiran teori lama saya soal hidup…
“ Hidup itu nul, kayak naik sepeda motor, berbagi jalan dengan kendaraan yang lain, mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada disepanjang jalan.  Sesekali belajar dari masa lalu dengan melirik (ingat hanya melirik, bukan dipelototin yaa) kaca spion tanpa kehilangan fokus pada jalan yg terbentang di hadapan ”

----------------------------------------------------------------------------------------------

Sekarang disini aku terkatung-katung pada kontinen makna.
laut yang keras, kata yang deras, benak yang terperas.

Disini aku, bertahan terus sebagai diri,
menambal retak-retak,
menahan gempuran daya yang membelah-belah,
bergerak saja kedepan.

Disini aku berkuat mengingat arti lahir di dunia,
memahami lemparan nasib,
menerka maksud jatuhnya Adam dan Hawa,
menyingkap kepungan dunia,
melompat-lompat, mengurai-ngurai, memaknai segalanya.

Disini aku menjaga kilauan api dalam diri,
menjaga gelora, beriak dalam temaram, bertahan tak padam.
(puisi anonym, dalam catatan pinggir Goenawan Muhammad -waktu-)


masih didepan nagamochi,
Sabtu, 12 Februari 2011
Kata jam dinding dikamar sih, skrg jam 10.00 malam